Kamis, 26 September 2013

Tulisan 1: Definisi Komunikasi (Dimensi Komunikasi), Definisi Leadership (Teori kepemimpinan)




DEFINISI KOMUNIKASI

     Banyak sekali kita jumpai pengertian komunikasi dalam literatur, beberapa diantaranya menyatakan bahwa “Komunikasi adalah suatu proses penyampaian dan penerimaan berita atau informasi dari seseorang ke orang lain. Suatu komunikasi yang tepat tidak bakal terjadi kalau dalam penyampaian berita tidak di sampaikan secara patut dan penerima berita menerimanya tidak dalam bentuk distorsi”. Distorsi ini dapat terjadi karena seseorang mempersepsi lain dari apa yang dimaksudkan oleh pengirim informasi. Oleh sebab itu komunikasi ini sangat erat hubungannya dengan persepsi. Seseorang tidak akan dapat menangkap makna atau pengetahuan yang dikomunikasikan.


     Herbert T mengemukakan bahwa communication is the process by which meaning or knowledge is transferred from one person to another , usually for the purpose of obtaining some specific goal. Komunikasi adalah proses mentransfer pengetahuan atau makna untuk mencapai tujuan tertentu.
     Krech menyatakan “A simple definition of communication would refer to the use of symbols to achieve common or shared information about an object”. Singkatnya komunikasi adalah kegiatan menggunakan simbol-simbol dalam rangka menyampaikan informasi tentang suatu objek.

DIMENSI KOMUNIKASI


   Empat dimensi dari proses komunikasi diantaranya:
1) Isi
     A biasanya berbicara kepada B tentang sesuatu. Proses itu mempunyai suatu isi. Apabila kita bersuara di dalam suatu percakapan, biasanya isinya pertama-tama adalah diri kita. Memang, isi dari komunikasi adalah merupakan hal yang dipikirkan oleh para ahli psikologi dan ahli bisnis ketika mereka memikirkan tentang hubungan antar manusia. Kita juga dapat melihat adanya pembagian golongan dalam hal isi. Kita dapat membeda-bedakan kategori dari jenis isi, misalnya apakah hal itu merupakan fakta atau merupakan perasaan.
2) Suara
     Kita dapat menjumpai suara saluran seperti gangguan udara pada kawat telepon yang menyebabkan B sukar untuk mendengar apa yang dikatakan oleh A. kita juga perlu memikirkan tentang adanya suara-suara psikologis, seperti misalnya pikiran B tentang hal-hal lain, sehingga sekali lagi adalah sukar bagi B untuk mendengarkannya: ia tidak memahami kata-kata yang dipergunakan oleh A di dalam cara sebagaimana A memahaminya.
3) Jaringan Komunikasi
     Biasanya kita berpikir bahwa percakapan antara A dengan B adalah langsung. Tetapi banyak percakapan semacam itu, terutama di dalam organisasi, ditengahi oleh orang lain. Suatu hal yang dianggap harus dinyatakan oleh bagan organisasi kepada kita ialah bahwa A dapat berbicara dengan B hanya dengan melalui C atau D. Sebagaimana satu bab berikut akan memperlihatkan, bahwa struktur jaringan yang dipergunakan oleh suatu organisasi dapat sangat bermanfaat bagi kecepatan dan ketepatan komunikasi antar anggotanya satu sama lain.
4) Arah Komunikasi
     Arah Komunikasi dibagi menjadi dua, yaitu satu arah dan dua arah. Lagi-lagi ini adalah merupakan dimensi yang bebas. Apapun yang mungkin dikatakan oleh A dan B, sejauh manapun gangguan suara ikut terlibat, bagaimanapun jaringannya, A mungkin berbicara dengan B cara ini: A=>B; atau cara ini: A=><=B. A dapat berbicara dan B hanya dapat mendengarkan, yaitu komunikasi satu arah; atau A dapat berbicara dan B dapat membalas berbicara kembali, yaitu komuniksai dua arah.

DEFINISI LEADERSHIP


      Hersey dan Blanchard (1982) mengatakan bahwa: in essence leadership is a broader concept than management. Namun menurut Davis (1967): leadership is part of management, but not all of it. A manager is required to plan and organize, for example, but all we ask of the leader is that he gets others to follow.
     Kepemimpinan lebih berhubungan dengan efektivitas, sedangkan memanajemeni lebih berhubungan dengan efisiensi. Bennis mengatakan bahwa pemimpin do the right things, sedangkan manajer do the things right. Kepemimpinan merupakan sesuatu yang penting bagi manajer. Para manajer merupakan pemimpin (dalam organisasi mereka), sebaliknya pemimpin tidak perlu menjadi manajer.
     Kepemimpinan merupakan pengertian yang meliputi segala macam situasi yang dinamis, yang berisi:
1) Seorang manajer sebagai pemimpin yang mempunyai wewenang untuk memimpin
2) Bawahan yang dipimpin, yang membantu manajer sesuai dengan tugas mereka masing-masing
3) Tujuan atau sasaran yang harus dicapai oleh manajer bersama-sama dengan bawahannya.

TEORI KEPEMIMPINAN

Teori X dan Teori Y – Douglas McGregor



  
     Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia secara jelas dan tegas dapat dibedakan atas manusia penganut teori X dan teori Y. Dimana teori X memandang manusia malas, tidak suka bekerja, menghindarkan tanggung jawab, suka dibimbing, diperintah dan diawasi serta mementingkan diri sendiri sehingga untuk memotivasi karyawan harus dilakukan dengan cara pengawasan ketat, dipaksa, dan diarahkan supaya mereka mau bekerja sungguh-sungguh
     Sedangkan teori Y memandang bahwa manusia atau karyawan itu rajin, suka bekerja, memikul tanggung jawab, berprestasi, kreatif dan inovatif. Menurut teori Y ini untuk memotivasi karyawan hendaknya dilakukan dengan cara peningkatan partisipasi karyawan, kerja sama, dan keterikatan pada keputusan. (Mc Gregor dalam Hasibuan 2001:1600)
     Menurut McGregor organisasi tradisional dengan ciri-cirinya yang sentralisasi dalam pengambilan keputusan, terumuskan dalam dua model yang dia namakan Teori X dan Teori Y.
     Teori X menyatakan bahwa sebagian besar orang-orang ini lebih suka diperintah, dan tidak tertarik akan rasa tanggung jawab serta menginginkan keamanan atas segalanya. Lebih lanjut menurut asumsi teori X dari McGregor ini bahwa orang-orang ini pada hakekatnya adalah:
1) Tidak menyukai bekerja
2) Tidak menyukai kemauan dan ambisi untuk bertanggung jawab, dan lebih menyukai diarahkan atau diperintah
3) Mempunyai kemampuan yang kecil untuk berkreasi, mengatasi masalah-masalah organisasi.
4) Hanya membutuhkan motivasi fisiologis dan keamanan saja.
5) Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mencapai tujuan organisasi.
     Untuk menyadari kelemahan dari asumsí teori X itu maka McGregor memberikan alternatif teori lain yang dinamakan teori Y. asumsi teori Y ini menyatakan bahwa orang-orang pada hakekatnya tidak malas dan dapat dipercaya, tidak seperti yang diduga oleh teori X. Secara keseluruhan asumsi teori Y mengenai manusia adalah sebagai berikut:
1) Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain dapat memberikan kepuasan kepada orang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan aktiva-aktiva fisik dan mental. Sehingga di antara keduanya tidak ada perbedaan, jika keadaan sama-sama menyenangkan.
2) Manusia dapat mengawasi diri sendiri, dan hal itu tidak bisa dihindari dalam rangka mencapai tujuan-tujuan organisasi.
3) Kemampuan untuk berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi secara luas didistribusikan kepada seluruh karyawan.
4) Motivasi tidak saja berlaku pada kebutuhan-kebutuhan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri tetapi juga pada tingkat kebutuhan-kebutuhan fisiologi dan keamanan.
5) Orang-orang dapat mengendalikan diri dan kreatif dalam bekerja jika dimotivasi secara tepat.
     Dengan memahami asumsi dasar teori Y ini, McGregor menyatakan selanjutnya bahwa merupakan tugas yang penting bagi menajemen untuk melepaskan tali pengendali dengan memberikan kesempatan mengembangkan potensi yang ada pada masing-masing individu. Motivasi yang sesuai bagi orang-orang untuk mencapai tujuannya sendiri sebaik mungkin, dengan memberikan pengarahan usaha-usaha mereka untuk mencapai tujuan organisasi.

Teori Sistem Empat Dari Rensis Likert


Empat sistem manajemen yang dikembangkan oleh Rensis Likert. Empat sistem tersebut terdiri dari:
1) Sistem 1, Otoritatif dan Eksploitif :
     Manajer membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah
para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara kaku ditetapkan oleh manajer.
2) Sistem 2, Otoritatif dan Benevolent:
     Manajer tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan kebebasan
untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut. Bawahan juga diberi berbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan.
3) Sistem 3, Konsultatif:
     Manajer menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah setelah hal-hal
itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat keputusan-keputusan
mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman.
4) Sistem 4, Partisipatif :
     Adalah sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana organisasi
seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan keputusan-keputusan kerja dibuat oleh kelompok. Bila manajer secara formal yang membuat keputusan, mereka melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota kelompok. Untuk memotivasi bawahan, manajer tidak hanya mempergunakan penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting.

Theori Of Leadership Pattern Choice Tannenbaum And Scmidt

     Bagaimana bisa seorang manajer mengatakan gaya manajemen apa yang digunakan? Pada tahun 1957, Robert Tannenbaum dan Warren Schmidt menulis salah satu artikel yang paling revolusioner yang pernah muncul dalam The Harvard Business Review. Artikel ini, berjudul “Bagaimana Memilih sebuah Pola Kepemimpinan, adalah signifikan dalam bahwa itu menunjukkan gaya kepemimpinan adalah pilihan manajer. Di bagian atas diagram di bawah ini anda akan melihat akrab “Hubungan Oriented” dan “Tugas Berorientasi” kontinum, yang juga diberi label “Demokrasi” dan “otoriter.”
     Diagram menunjukkan dimensi lain: “Sumber Otoritas”. Pada akhir demokratis diagram, manajer memungkinkan kebebasan karyawan. Pada akhir otoriter diagram kita melihat bahwa manajer adalah satu-satunya sumber otoritas. Kita pergi dari otoritas buruh untuk otoritas manajer. Berkaitan dengan masalah gaya kepemimpinan dan dengan pertanyaan seperti manajer dapat demokratis terhadap bawahan, namun mempertahankan otoritas yang diperlukan dan kontrol. Untuk tujuan analisis mereka telah menghasilkan sebuah kontinum perilaku kepemimpinan mulai dari autoritarian styles di satu ekstrem ke gaya demokratis di sisi lain, yang mereka sebut bos berpusat dan berpusat pada bawahan tidak seperti orang lain model kepemimpinan berusaha untuk menyediakan kerangka kerja untuk analisis dan pilihan individu.
para penulis mengusulkan tiga faktor utama yang menjadi pilihan tergantung pola kepemimpinan:
1) Kekuatan di manajer (eg: attitudes, kepercayaan, nilai-nilai)
2) Kekuatan di bawahan (eg: their sikap, kepercayaan, nilai dan harapan dari pemimpin)
3) Kekuatan dalam situasi (eg: preasure dan kendala yang dihasilkan oleh tugas-tugas, iklim organisasi dan lain-lain faktor extrancous).
     Tujuh “pola kepemimpinan” yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt. Pola kepemimpinan ditandai dengan angka-angka di bagian bawah diagram ini mirip dengan gaya kepemimpinan, tetapi definisi dari masing-masing terkait dengan proses pengambilan keputusan.
Demokrasi (hubungan berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh bawahan. Otoriter (tugas berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh pemimpin.
Perhatikan bahwa sebagai penggunaan kekuasaan oleh bawahan meningkat (gaya demokratis) penggunaan wewenang oleh pemimpin berkurang secara proporsional.
1) Kepemimpinan Pola 1: “Pemimpin izin bawahan berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan oleh superior.”
Contoh: Pemimpin memungkinkan anggota tim untuk memutuskan kapan dan seberapa sering untuk bertemu.
2) Kepemimpinan Pola 2: “Pemimpin mendefinisikan batas-batas, dan meminta kelompok untuk membuat keputusan.”
Contoh: Pemimpin mengatakan bahwa anggota tim harus memenuhi setidaknya sekali seminggu, tetapi tim bisa memutuskan mana hari adalah yang terbaik.
3) Kepemimpinan Pola 3: “Pemimpin menyajikan masalah, mendapat kelompok menunjukkan, maka pemimpin membuat keputusan.”
Contoh: Pemimpin meminta tim untuk menyarankan hari-hari baik untuk bertemu, maka pemimpin memutuskan hari apa tim akan bertemu.
4) Kepemimpinan Pola 4: “Pemimpin tentatif menyajikan keputusan untuk kelompok. Keputusan dapat berubah oleh kelompok.”
Contoh: Pemimpin kelompok bertanya apakah hari rabu akan menjadi hari yang baik untuk bertemu. Tim menyarankan hari-hari lain yang mungkin lebih baik.
5) Kepemimpinan Pola 5: “Pemimpin menyajikan ide-ide dan mengundang pertanyaan.”
Contoh: Pemimpin tim mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan membuat hari rabu untuk pertemuan tim. Pemimpin kemudian meminta kelompok jika mereka memiliki pertanyaan.
6) Kepemimpinan Pola 6: “Para pemimpin membuat keputusan kemudian meyakinkan kelompok bahwa keputusan yang benar.”
Contoh: Pemimpin mengatakan kepada anggota tim bahwa mereka akan bertemu pada hari rabu. Pemimpin kemudian meyakinkan anggota tim bahwa rabu adalah hari-hari terbaik untuk bertemu.
7) Kepemimpinan Pola 7: “Para pemimpin membuat keputusan dan mengumumkan ke grup.”
Contoh: Pemimpin memutuskan bahwa tim akan bertemu pada hari rabu apakah mereka suka atau tidak, dan mengatakan bahwa berita itu kepada tim.

Sumber:
Munandar, Ashar Sunyoto. 2008. PSIKOLOGI INDUSTRI dan ORGANISASI. Jakarta: Universitas
          Indonesia (UI-Press)
Nawangsari, Sri. 1997. Komunikasi Bisnis. Jakarta: Gunadarma
Zarkasi, Muslichah. 1978. Psikologi Manajemen. Jakarta: Erlangga
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/10/teori-kepemimpinan/

Sabtu, 29 Juni 2013

ABNORMALITAS DAN KAITAN ABNORMALITAS DENGAN KONSEP MOTIVASI, STRESS, DAN GENDER



ABNORMALITAS
Abnormalitas dapat didefinisikan sebagai hal yang jarang terjadi (seperti kidal) atau penyimpangan dari kondisi rata-rata (seperti tinggi badan yang ekstrem). Dalam psikologi abnormal, kriteria statistik semacam itu tidak dianggap relevan.
Abnormalitas didefinisikan melalui empat kriteria, yaitu:
1.   Distress
Kekacauan emosional setelah melihat peristiwa traumatis. Kesakitan psikologis, seperti depresi mendalam atau kecemasan hebat mungkin sangat besar hingga beberapa orang tidak dapat melakukan tugas-tugas sehari-hari.
2.   Impairment
Meliputi berkurangnya kemampuan seseorang untuk berfungsi pada taraf optimal atau bahkan pada taraf rata-rata.
3.   Beresiko bagi diri sendiri dan orang lain
4.   Perilaku yang tidak dapat diterima secara budaya dan sosial

KAITAN ABNORMALITAS DENGAN:
A.    Konsep Motivasi
Dalam konseptualisasi yang lebih baru (Elliot, 2011), terapi humanistik dan eksperimental telah menekankan pentingnya penggunaan metode-metode klinis. Terapi humanistik dan eksperimental kontemporer menekankan pentingnya memasuki dunia dan pengalaman klien, mencoba menangkap hal yang paling penting bagi klien pada saat itu. Dibangun dari premis yang diajukan oleh Rogers, para terapis yang efektif mencari cara untuk menyampaikan empati dan penerimaan serta melibatkan klien dalam menentukan tujuan treatmen serta melibatkan klien dalam menentukan tujuan treatmen serta mendefinisikan teknik-teknik seperti wawancara motivasi (motivational interview – MI), suatu cara terapi yang berpusat pada klien untuk mencapai perubahan perilaku dengan cara membantu klien mengeksplorasi dan mengatasi ketidak keseimbangan. Seperti Rogers, para klinisi yang menggunakan teknik ini mendasarkan terapi mereka pada metode mendengarkan dan merefleksikan yang memungkinkan mereka mencari celah untuk memicu perubahan dalam diri klien. Terapis mencoba untuk menemukan motivasi dalam diri klien untuk berubah dengan menekankan otonomi individual serta kemampuannya untuk memilih apakah perlu berubah, kapan, dan bagaimana cara untuk berubah (Hettema, Steele, & Miller, 2005).

B.     Stress
Sebagian besar peneliti menggunakan istilah stress untuk menunjukkan reaksi emosional yang tidak menyenangkan yang ditunjukkan oleh seseorang, ketika orang tersebut memaknai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang menimbulkan ancaman. Reaksi emosional ini meliputi meningkatnya rangsangan fisiologis yang terjadi karena meningkatnya reaksi sistem saraf simpatetik. Stress dapat menyebabkan abnormalitas fisiologis. Untuk memahami permasalahan tersebut, ketika dapat menggunakan bidang psikoneuroimunologi (Psychoneuroimmunology), yaitu bidang yang mempelajari hubungan antara stress (Psycho), sistem saraf (neuro), dan sistem imun (immuno). Pada tingkat yang lebih tinggi, peneliti dibidang medis dan psikologi mulai memahami gangguan seperti gangguan jantung dan gangguan pada pernapasan, beberapa jenis diabetes, dan gangguan gastrointestinal dipengaruhi oleh respons terhadap stress yang dikendalikan sistem saraf pusat. Semakin jelas jika pengalaman terhadap stress, afeksi negatif, depresi, kurangnya dukungan sosial, represi, dan penghindaran dapat memengaruhi sistem dan fungsi imun (Schneiderman, Ironson, & Siegel, 2005).
Peristiwa yang menimbulkan stress dapat menimbulkan serangkaian reaksi dalam tubuh yang dapat menurunkan daya tahan terhadap penyakit, reaksi ini juga dapat memperburuk simtom gangguan fisik yang kronis yang terjadi karena dipengaruhi oleh stress. Salah satu penjelasan mengenai hubungan ini adalah bahwa stress menstimulasi hormon yang diatur oleh hipotalamus dan hormon ini menurunkan aktivitas sistem imun. Dengan perlindungan yang sedikit, daya tahan tubuh berkurang terhadap infeksi, alergi dan kuman-kuman penyakit lainnya yang lebih serius seperti karsinogen. Reaksi sistem imun juga mengubah fungsi sistem imun melalui ujung saraf pada bagian tubuh yang melibatkan sistem imun, seperti batang getah bening, timus, dan limpa. Stress juga menimbulkan  kortisol, hormon yang bertugas mengarahkan respon tubuh terhadap ancaman atau bahaya. Proses ini tampaknya berpengaruh terhadap jangkauan luas dari gangguan fisik, termasuk kanker, hipertensi, dan arthritis reumatroid (Costa & VandenBos, 1996). Peristiwa stress yang buruk dan depresi dapat meningkatkan simtom pada orang yang mengidap penyakit HIV (Crepaz dkk, 2008).

C.     Gender
Istilah identitas gender merujuk kepada persepsi individu sebagai seorang pria atau wanita. Walaupun demikian, identitas gender seseorang mungkin sesuai atau mungkin juga tidak sesuai dengan keadaan atau jenis kelamin biologis sebagaimana tertulis dalam surat keterangan lahir. Peran gender merujuk kepada perilaku atau sikap seseorang yang mengindikasikan maskulinitas atau kefemininan dalam lingkungan sosial saat ini. Gangguan identitas gender adalah suatu kondisi yang melibatkan suatu diskrepansi antara kondisi seksual seseorang dan identitas gender dari orang tersebut. Seseorang yang mengalami gangguan identitas gender mengalami identifikasi antarjenis kelamin yang kuat dan cenderung menetap yang pada akhirnya menyebabkan perasaan tidak nyaman dan menimbulkan rasa ketidaksesuaian dengan jenis kelamin yang mereka miliki. Para individu yang mengalami kondisi ini memiliki perasaan tertekan yang intens dan biasanya mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri di lingkungan sosial, lingkungan pekerjaan, dan area pemfungsian personal yang lain.

Sumber:
Halgin, Richard P dan Susan Krauss Whitbourne, 2010, Psikologi Abnormall: Perspektif Klinis Pada Gangguan Psikologis, Edisi 6, Jakarta: Salemba Humanika

Kamis, 16 Mei 2013

Kepribadian Sehat Menurut Rogers



            Rogers bekerja dengan individu-individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Roger mengembangkan suatu metode yang diberi nama teori yang berpusat pada klien (tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien). Menurut Rogers masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting dari pada masa lampau.
            Menurut rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi. Rogers berpendapat bahwa kecendrungan untuk aktualisasi sebagai suatu tenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan perjuangan serta setiap dorongan yang ikut menghentikan usaha untuk berkembang. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi-potensi psikologisnya yang unik. Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan bahwa hasil ciptaan yang sangat penting adalah diri orang sendiri, suatu tujuan yang dicapai jauh lebih sering oleh orang-orang yang sehat daripada oleh orang-orang yang sakit secara psikologis.

Perkembangan Diri
            Self Concept “Pengertian Diri”, anak menggambarkan dia akan menjadi siapa atau mungkin ingin menjadi siapa. Gambaran-gambaran itu dibentuk sebagai suatu akibat dari bertambah kompeksnya interaksi-interaksi dengan orang lain.
            Positive Regard “Penghargaan Positif”, suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, dimiliki semua manusia; setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Anak puas kalau dia menerima kasih sayang, cinta, dan persetujuan dari orang lain, tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan danj kurang mendapat cinta dan kasih sayang.
            Self Concept yang berkembang dari anak itu sangat dipengaruhi oleh ibu. Dalam positive regard  terdapat dua situasi yaitu “Penghargaan positif bersyarat” (conditional positive regard) dan “Penghargaan positif tanpa syarat” (unconditional positive regard). Dalam Penghargaan positif bersyarat anak harus bekerja keras untuk mendapatkan positive regard (kasih sayang, dan cinta dari ibu) dengan mengorbankan aktualisasi diri. Dalam penghargaan positif tanpa syarat, ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak  bertingkah laku.
            Rogers percaya bahwa ibu dapat mencela tingkah laku-tingkah laku tertentu pada saat yang sama menciptakan syarat-syarat dalam mana anak akan menerima cinta dan kasih sayang. Hal ini dapat dicapai dalam suatu situasi yang membantu anak menerima beberapa tingkah laku yang tidak dikehendaki tanpa menyebabkannya merasa bersalah dan tidak berharga setelah melakukan tingkah laku-tingkah laku tersebut. Anak tidak terlalu banyak dinasihati sehingga dapat menetapkan syarat-syarat penghargaan untuk anak karena itulah caranya bagaimana nasihat itu dilaksanakan.

Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
Rogers (tokoh humanistik) memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya. Diantaranya adalah:
1.      Keterbukaan pada pengalaman
Lawan dari sikap defensif. Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan dari luar disampaikan ke sistem syaraf organisme tanpa distorsi atau rintangan. Orang yang demikian mengetahui segala sesuatu tentang kodratnya, tidak ada segi kepribadian yang tertutup. Itu berarti bahwa kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru.
2.      Kehidupan eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat menyesuaikan diri karena struktur diri terus menerus terbuka kepada pengalaman baru. Kepribadian yang demikian itu tidak kaku atau tidak dapat diramalkan. Rogers percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu yang terjadi pada momen itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman suatu struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respon atas pengalaman momen yang berikutnya
3.      Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Dalam memutuskan suatu tindakan, organisme tidak mengabaikan faktor-faktor seperti sadar, tak sadar, emosional, dan juga intelektual. Karena data yang digunakan untuk mencapai suatu keputusan adalah tepat. Orang-orang yang sehat percaya akan keputusan mereka, seperti mereka percaya akan diri mereka sendiri.
4.      Perasaan bebas
Semakin seorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Karena merasa bebas dan berkuasa maka orang yang sehat melihat sangat banyak pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apa saja yang mungkin ingin dilakukannya.
5.      Kreativitas
Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan sosial dan kultural. Karena mereka kurang bersikap defensif, maka mereka tidak menghiraukan kemungkinan tingkah laku mereka diterima dengan baik oleh orang lain. Akan tetapi, mereka dapat dan kerap kali benar-benar menyesuaikan diri dengan tuntutan dari situasi khusus apabila konformitas yang demikian itu akan membantu memuaskan kebutuhan mereka dan memungkinkan mereka mengembangkan diri mereka sampai ke tingkat yang paling penuh. 

Sumber:
Yustinus (ed.). 1991. Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: Kanisius